Jumat, 30 Mei 2014

Girl in...

Part 1


Malam bulan purnama, mengapa kau begitu indah sekaligus menyeramkan? Aku ingat dongeng yang dibacakan ibuku. Malam bulan purnama, penyihir berhati seperti serigala keluar, memikat hati gadis yang ditemuinya dan memangsanya. Entah mengapa dongeng itu selalu ada di alam khayalku, bahkan  jika itu memang benar, aku ingin sekali bertemu dengannya, walau harus dimangsa sekalipun.
Oh my GOD!! Hampir jam 9! Aku bisa terlambat! Kukayuh sepedaku sekencang-kencangnya. Hampir sampai, sedikit lagi, oh tidak! Pintu gerbangnya sudah ditutup. Kukayuh kencang-kencang, yak! Aku bisa meloncati pagar, nO!! GUBRAKS! Ban depan sepedaku penyok. Kutuntun sepedaku menuju tempat parkir.
“Eri! Segera menghadap kepala sekolah sekarang!” bentak Takurou-sensei yang sudah berdiri dibelakangku sejak tadi. Wah, kok aku tidak sadar ya?
“Jangan kasar begitu donk, sensei. Bisa lembut sedikit?” rayuku sambil memperlihatkan muka cute.
Takurou-sensei menarik tanganku, duh, sakit banget, aku diantar ke ruang kepala sekolah dengan cara seperti ini?
“Menurut peraturan sekolah, kau sudah dikeluarkan!!” bentak Takurou-sensei.
“Apa? Bukankah saya baru terlambat dua kali, menurut peraturan sekolah kalau terlambat lima kali dikeluarkan?”
“Kau dikeluarkan bukan karena itu, tapi, kau selalu merusak fasilitas ditempat pertandingan Karate, pemilik tempat itu menagih kami tiga ribu Yen!”
“Ah, cuma sedikit, kalian berbohong kan’?”
“Memangnya kami mau membayar untuk anak seperti kau! Lihat hasil ujian kemarin, kau mendapat nilai merah untuk semua mata pelajaran!! Untuk itu, kau dikeluarkan, ya, kan’ Kepala Sekolah?”
“Kepala Sekolah, ini hanya lelucon kan’?”
Kursi Kepala Sekolah berbalik. Orang itu, lelaki yang tidak pernah kukenal, bahkan wajah Kepala Sekolahku tidak seperti ini.
“Anda bukan Kepala Sekolah!! Untuk apa anda memanggil saya?!”
“Kwon Eri, kau gadis cantik, model fashion sekaligus atlet muda Karate, tapi sayang, ilmu akademikmu kurang. Perkenalkan aku Gin Jirokichi, pemimpin Yakuza”
“Ya... Yakuza!! Lantas, untuk apa anda memanggilku? Jangan-jangan anda menyuruhku menjadi mafia seperti anda!”
“Tidak, aku tidak butuh orang seperti kau untuk menjadi mafia!”
“Apapun alasanmu pak tua, aku tidak mau ikut, sampai jumpa, kakek Gin!” kataku hendak meninggalkan ruangan itu.
“Sebelum kau keluar, sepertinya kau harus berhenti dulu. Jika kau menerima tantanganku dan berhasil, aku akan membayar hutang-hutangmu dan menjadikanmu atlet Karate profesional, atau lebih dari itu”
“Atlet karate profesional?”
“Hmm... sepertinya kau mau menerima tantanganku. Aku punya anak bandel, namanya David Jirokichi, dia kabur membawa uang-uangku. Saat ini dia berada di Seoul International School (SIS). Aku dan bawahanku tidak bisa membawanya pulang karena aku dianggap jahat oleh pihak SIS. Kupikir dengan mengirim gadis cantik, dia pasti mau pulang. Karena itu selamat berjuang!”
Pak Gin memberiku beberapa lembar profil Seoul International School dan foto David Jirokichi. Seandainya David Jirokichi tidak tampan, aku tidak akan menerimanya. Aku rasa aku berada diantara keberuntungan dan kesialan. Aku beruntung sekolah dan perjalananku ke Seoul dibiayai dan bertemu cowok tampan, tapi sialnya, aku dijadikan umpan untuk mengajak anaknya pulang.
Seoul International School ternyata sangat ketat, bahkan untuk masuk ke sekolah itu harus melewati beberapa gerbang dan pemeriksaan. Asramanya juga ketat, asrama putri dan putra dipisahakan dengan jarak yang jauh. Bahkan untuk mengunjungi kawan yang berbeda jenis kelamin pun harus izin kepala sekolah. Tetapi, SIS enak juga, setiap bulan selalu diadakan festival, selain itu siswanya dari berbagai negara. Ada lagi, di sekolah ini tidak ada sistem seragam, jadi bersekolah pakai baju bebas.
Saat aku pindah kesini, sekolah ini sedang ada festival, jadi agak sulit mencari David Jirokichi. Ketika aku berbelok ketikungan, aku menabrak seseorang. Kulihat wajahnya, ah, dia tampan sekali dan... memakai kostum KAITO KID?!
“Ah, maafkan aku, Miss...” katanya sambil berlalu.
Ackh, aku sadar kalau itu David, ups, kalungnya jatuh. Ternyata laki-laki juga pakai kalung ya? Ketika berbalik, dia sudah tidak ada. Dasar laki-laki, munculnya tiba-tiba, menghilangnya cepat. Uh, aku harus mengambil jalan kemana? Aku berjalan di belakang panggung, kalau dia pakai kostum, pasti akan tampil dalam suatu acara bukan? Ah, ada suara! Aku mengendap-endap kearah suara itu, bukankah itu David?!
“Bagaimana ini? Kita tidak punya seseorang yang akan dijadikan peraga!” kata David, sepertinya dia kebingungan.
“Aku sudah berusaha mencari, tapi hasilnya nihil! Kalau begini, acara sulap kita bisa gagal!” kata seseorang lagi.
Aku memberanikan diri muncul.
“Bagaimana kalau aku yang menjadi peraga?” tawarku.
David mendekatiku, seandainya gadis yang dihadapannya bukan aku, mungkin gadis itu sudah pingsan, habis dia tampan sih! Kalau aku kan sudah punya jurus kebal untuk berhadapan dengan cowok ganteng, hehehe...
“Hai Miss, kita bertemu lagi, tampaknya pertemuan kedua ini kau sengaja...”
“Memang kusengaja, kau menjatuhkan ini!” kataku sambil menyodorkan kalung itu.
“Oh, thank’s Miss...”
“Jangan memanggilku Miss! Namaku Eri tahu!”
“Eri? Nama yang cantik. Perkenalkan, namaku David Jirokichi. Kau boleh menjadi peraga...”
“Omong-omong, aku menjadi peraga apa?”
“Menjadi peraga untuk hipnotis!” sahut temannya.
“Heh! Hipnotis, wah kalau itu ja...”
“Tenanglah, kami menghipnotismu bukan untuk masalah pribadi tapi...” sepertinya dia tidak mau melanjutkan perkataannya. Tiba-tiba, wajahnya memerah, duh, apaan nih?
“Ah, acaranya mau dimulai, kau harus mengganti bajumu! Ganti bajumu dengan baju yang sudah kami sediakan!”
“Oh, terimakasih!”
Aku menuju ke ruangan yang ditunjukkan tadi, APA?! Aku disuruh pakai gaun gothic! Dengan berat hati, kuganti pakaianku. Aku, David, dan rekan-rekan David, menuju kepanggung.
“Penonton, aku persembahkan, Hipnotic Illusion! Gadis yang kuhipnotis akan jatuh cinta padaku!” teriak David.
DUEEGG!! Jantung ini rasanya mau copot. Biarpun tampan, aku nggak mau jatuh cinta padanya, nggak mau!! David menutup mataku, aku berharap hipnotisnya gagal. Dan... aku nggak merasakan apa-apa ketika menatap David, biasa saja. David mengedipkan sebelah matanya, oh aku mengerti, ternyata aku disuruh berpura-pura. Aku berlagak seolah-olah jatuh cinta padanya, cukup dengan blushing. Terdengar tepukan tangan meriah, hihihi, mereka nggak tahu kalau ditipu. David tersenyum kearahku, mungkin dia berkata ‘GOOD JOB’ dalam hati. Dasar penipu kelas teri!!
Malam ini, aku putuskan untuk istirahat, lagipula besok masih festival. Entah mengapa tiba-tiba aku memikirkan David.  Oh, ada bayangan seseorang di beranda, kubuka korden. Oh my GOD! DAVID?!
Good Night, Miss. Kau belum tidur ya?” katanya lembut.
“Ke...kenapa kau menyusup kesini?! Aku panggil satpam lho!”
Aku mengambil handphone, tiba-tiba dia menghalangiku.
“Miss, aku datang kesini untuk menghilangkan hipnotis itu. Aku ini benar-benar seorang penyihir!”
“Jangan berkata sembarangan! Kau ini penipu!”
“Miss, dengarkan aku! Hipnotis itu mungkin akan datang malam ini atau esok hari! Jika tidak segera dihilangkan, hipnotis itu akan abadi!!”
Aku berusaha mengambil handphone, David menghalangiku.
“Miss, kumohon...”
“Jangan panggil aku Miss! Panggil aku Eri! Pergi sana!”
Aku mendorong David, tapi dia terlalu kuat. Cahaya bulan menerangi kamarku, kenapa suasananya jadi romantis begini?
“Jika kau tidak mau, ya sudahlah, aku akan pergi, sampai nanti!” kata David lalu menghilang dalam sekejap.
Apaan sih? Apapun yang dia katakan, aku tidak percaya.  Alah, sudahlah, aku tidur saja! Esoknya aku joging mengelilingi asrama, tidak sengaja aku bertemu David. Ketika aku menatapnya, entah mengapa jantung ini berdegub kencang, duh! Perasaan apa nih!
“Good Morning, Miss!” sapanya, entah mengapa senyumnya jadi manis sekali.
“Ja... Jangan panggil aku Miss! Panggil aku ERII!” teriakku sambil menghindarinya.
Eh, perasaan tadi sudah lenyap, syukurlah. Aku berbalik, tapi, perasaan itu kok kembali lagi sih. Aku memegang kepalaku, kugelengkan kuat-kuat.
“Ach! Apa yang terjadi dengan diriKUUUU!!!!”
“Kau merasa jantungmu berdegub kencang kan’?”
Aku hanya mengangguk, David tersenyum, dan dia tertawa dalam sekejap. Duh, memangnya aku komedian apa, kok ketawanya begitu.
“Itu namanya kau sedang jatuh cinta Miss...”
“Ja... jatuh cinta? Omong kosong! Aku nggak bakal jatuh cinta sama cowok!!”
“Jangan bohong, buktinya kau bersikap seperti itu...”
“Aku... pada dasarnya nggak suka cowok, jadi, aku nggak bakal jatuh cinta sama cowok...”
Aku melihat kearah David, ampunn... mukanya kaya’ lagi syok dilebay-lebayin.
“JADI KAMU NGGAK PERNAH PUNYA PACAR? KAMU SELAMA INI JOMBLO? SELAMA INI NGGAK PERNAH KENCAN?! Hmm... hipnotisku ternyata berguna juga...”
“HIPNOTIS APAAN? Kamu kan’ cuma PENIPU!”
“Coba Miss bayangkan, anda tidak menyukai pria tapi, anda jatuh cinta pada saya” (Kenapa gaya bicaranya jadi formal?)
“Iya juga sih... hm... apa-apaan sih kamu manggil aku MISS?! Namaku KWON ERI, jadi lain kali, panggil aku ERI!!!”
Aku berlari menghindarinya, kalau dia bukan penyihir, lalu bagaimana caranya dia membuatku jatuh cinta? Sepertinya otakku mulai percaya kalau dia penyihir. Ya, penyihir tampan yang memangsa hati wanita.


Bersambung ke Part berikutnya...