Part 1
Malam bulan purnama, mengapa kau begitu
indah sekaligus menyeramkan? Aku ingat dongeng yang dibacakan ibuku. Malam
bulan purnama, penyihir berhati seperti serigala keluar, memikat hati gadis
yang ditemuinya dan memangsanya. Entah mengapa dongeng itu selalu ada di alam
khayalku, bahkan jika itu memang benar,
aku ingin sekali bertemu dengannya, walau harus dimangsa sekalipun.
Oh my GOD!! Hampir jam 9! Aku bisa
terlambat! Kukayuh sepedaku sekencang-kencangnya. Hampir sampai, sedikit lagi,
oh tidak! Pintu gerbangnya sudah ditutup. Kukayuh kencang-kencang, yak! Aku
bisa meloncati pagar, nO!! GUBRAKS! Ban depan sepedaku penyok. Kutuntun
sepedaku menuju tempat parkir.
“Eri! Segera menghadap kepala sekolah
sekarang!” bentak Takurou-sensei yang sudah berdiri dibelakangku sejak tadi.
Wah, kok aku tidak sadar ya?
“Jangan kasar begitu donk, sensei. Bisa
lembut sedikit?” rayuku sambil memperlihatkan muka cute.
Takurou-sensei menarik tanganku, duh,
sakit banget, aku diantar ke ruang kepala sekolah dengan cara seperti ini?
“Menurut peraturan sekolah, kau sudah
dikeluarkan!!” bentak Takurou-sensei.
“Apa? Bukankah saya baru terlambat dua
kali, menurut peraturan sekolah kalau terlambat lima kali dikeluarkan?”
“Kau dikeluarkan bukan karena itu, tapi,
kau selalu merusak fasilitas ditempat pertandingan Karate, pemilik tempat itu
menagih kami tiga ribu Yen!”
“Ah, cuma sedikit, kalian berbohong
kan’?”
“Memangnya kami mau membayar untuk anak
seperti kau! Lihat hasil ujian kemarin, kau mendapat nilai merah untuk semua
mata pelajaran!! Untuk itu, kau dikeluarkan, ya, kan’ Kepala Sekolah?”
“Kepala Sekolah, ini hanya lelucon
kan’?”
Kursi Kepala Sekolah berbalik. Orang
itu, lelaki yang tidak pernah kukenal, bahkan wajah Kepala Sekolahku tidak
seperti ini.
“Anda bukan Kepala Sekolah!! Untuk apa
anda memanggil saya?!”
“Kwon Eri, kau gadis cantik, model
fashion sekaligus atlet muda Karate, tapi sayang, ilmu akademikmu kurang.
Perkenalkan aku Gin Jirokichi, pemimpin Yakuza”
“Ya... Yakuza!! Lantas, untuk apa anda
memanggilku? Jangan-jangan anda menyuruhku menjadi mafia seperti anda!”
“Tidak, aku tidak butuh orang seperti
kau untuk menjadi mafia!”
“Apapun alasanmu pak tua, aku tidak mau
ikut, sampai jumpa, kakek Gin!” kataku hendak meninggalkan ruangan itu.
“Sebelum kau keluar, sepertinya kau
harus berhenti dulu. Jika kau menerima tantanganku dan berhasil, aku akan
membayar hutang-hutangmu dan menjadikanmu atlet Karate profesional, atau lebih
dari itu”
“Atlet karate profesional?”
“Hmm... sepertinya kau mau menerima
tantanganku. Aku punya anak bandel, namanya David Jirokichi, dia kabur membawa
uang-uangku. Saat ini dia berada di Seoul International School (SIS). Aku dan
bawahanku tidak bisa membawanya pulang karena aku dianggap jahat oleh pihak
SIS. Kupikir dengan mengirim gadis cantik, dia pasti mau pulang. Karena itu
selamat berjuang!”
Pak Gin memberiku beberapa lembar profil
Seoul International School dan foto David Jirokichi. Seandainya David Jirokichi
tidak tampan, aku tidak akan menerimanya. Aku rasa aku berada diantara
keberuntungan dan kesialan. Aku beruntung sekolah dan perjalananku ke Seoul
dibiayai dan bertemu cowok tampan, tapi sialnya, aku dijadikan umpan untuk
mengajak anaknya pulang.
Seoul International School ternyata
sangat ketat, bahkan untuk masuk ke sekolah itu harus melewati beberapa gerbang
dan pemeriksaan. Asramanya juga ketat, asrama putri dan putra dipisahakan
dengan jarak yang jauh. Bahkan untuk mengunjungi kawan yang berbeda jenis
kelamin pun harus izin kepala sekolah. Tetapi, SIS enak juga, setiap bulan
selalu diadakan festival, selain itu siswanya dari berbagai negara. Ada lagi,
di sekolah ini tidak ada sistem seragam, jadi bersekolah pakai baju bebas.
Saat aku pindah kesini, sekolah ini
sedang ada festival, jadi agak sulit mencari David Jirokichi. Ketika aku
berbelok ketikungan, aku menabrak seseorang. Kulihat wajahnya, ah, dia tampan
sekali dan... memakai kostum KAITO KID?!
“Ah, maafkan aku, Miss...” katanya
sambil berlalu.
Ackh, aku sadar kalau itu David, ups,
kalungnya jatuh. Ternyata laki-laki juga pakai kalung ya? Ketika berbalik, dia
sudah tidak ada. Dasar laki-laki, munculnya tiba-tiba, menghilangnya cepat. Uh,
aku harus mengambil jalan kemana? Aku berjalan di belakang panggung, kalau dia
pakai kostum, pasti akan tampil dalam suatu acara bukan? Ah, ada suara! Aku
mengendap-endap kearah suara itu, bukankah itu David?!
“Bagaimana ini? Kita tidak punya
seseorang yang akan dijadikan peraga!” kata David, sepertinya dia kebingungan.
“Aku sudah berusaha mencari, tapi hasilnya
nihil! Kalau begini, acara sulap kita bisa gagal!” kata seseorang lagi.
Aku memberanikan diri muncul.
“Bagaimana kalau aku yang menjadi
peraga?” tawarku.
David mendekatiku, seandainya gadis yang
dihadapannya bukan aku, mungkin gadis itu sudah pingsan, habis dia tampan sih!
Kalau aku kan sudah punya jurus kebal untuk berhadapan dengan cowok ganteng,
hehehe...
“Hai Miss, kita bertemu lagi, tampaknya
pertemuan kedua ini kau sengaja...”
“Memang kusengaja, kau menjatuhkan ini!”
kataku sambil menyodorkan kalung itu.
“Oh, thank’s Miss...”
“Jangan memanggilku Miss! Namaku Eri
tahu!”
“Eri? Nama yang cantik. Perkenalkan,
namaku David Jirokichi. Kau boleh menjadi peraga...”
“Omong-omong, aku menjadi peraga apa?”
“Menjadi peraga untuk hipnotis!” sahut
temannya.
“Heh! Hipnotis, wah kalau itu ja...”
“Tenanglah, kami menghipnotismu bukan
untuk masalah pribadi tapi...” sepertinya dia tidak mau melanjutkan
perkataannya. Tiba-tiba, wajahnya memerah, duh, apaan nih?
“Ah, acaranya mau dimulai, kau harus
mengganti bajumu! Ganti bajumu dengan baju yang sudah kami sediakan!”
“Oh, terimakasih!”
Aku menuju ke ruangan yang ditunjukkan
tadi, APA?! Aku disuruh pakai gaun gothic! Dengan berat hati, kuganti
pakaianku. Aku, David, dan rekan-rekan David, menuju kepanggung.
“Penonton, aku persembahkan, Hipnotic
Illusion! Gadis yang kuhipnotis akan jatuh cinta padaku!” teriak David.
DUEEGG!! Jantung ini rasanya mau copot.
Biarpun tampan, aku nggak mau jatuh cinta padanya, nggak mau!! David menutup
mataku, aku berharap hipnotisnya gagal. Dan... aku nggak merasakan apa-apa
ketika menatap David, biasa saja. David mengedipkan sebelah matanya, oh aku
mengerti, ternyata aku disuruh berpura-pura. Aku berlagak seolah-olah jatuh
cinta padanya, cukup dengan blushing. Terdengar tepukan tangan meriah, hihihi,
mereka nggak tahu kalau ditipu. David tersenyum kearahku, mungkin dia berkata
‘GOOD JOB’ dalam hati. Dasar penipu kelas teri!!
Malam ini, aku putuskan untuk istirahat,
lagipula besok masih festival. Entah mengapa tiba-tiba aku memikirkan
David. Oh, ada bayangan seseorang di beranda,
kubuka korden. Oh my GOD! DAVID?!
“Good
Night, Miss. Kau belum tidur ya?” katanya lembut.
“Ke...kenapa kau menyusup kesini?! Aku
panggil satpam lho!”
Aku mengambil handphone, tiba-tiba dia
menghalangiku.
“Miss, aku datang kesini untuk
menghilangkan hipnotis itu. Aku ini benar-benar seorang penyihir!”
“Jangan berkata sembarangan! Kau ini
penipu!”
“Miss, dengarkan aku! Hipnotis itu
mungkin akan datang malam ini atau esok hari! Jika tidak segera dihilangkan,
hipnotis itu akan abadi!!”
Aku berusaha mengambil handphone, David
menghalangiku.
“Miss, kumohon...”
“Jangan panggil aku Miss! Panggil aku
Eri! Pergi sana!”
Aku mendorong David, tapi dia terlalu
kuat. Cahaya bulan menerangi kamarku, kenapa suasananya jadi romantis begini?
“Jika kau tidak mau, ya sudahlah, aku
akan pergi, sampai nanti!” kata David lalu menghilang dalam sekejap.
Apaan sih? Apapun yang dia katakan, aku
tidak percaya. Alah, sudahlah, aku tidur
saja! Esoknya aku joging mengelilingi asrama, tidak sengaja aku bertemu David.
Ketika aku menatapnya, entah mengapa jantung ini berdegub kencang, duh!
Perasaan apa nih!
“Good Morning, Miss!” sapanya, entah
mengapa senyumnya jadi manis sekali.
“Ja... Jangan panggil aku Miss! Panggil
aku ERII!” teriakku sambil menghindarinya.
Eh, perasaan tadi sudah lenyap,
syukurlah. Aku berbalik, tapi, perasaan itu kok kembali lagi sih. Aku memegang
kepalaku, kugelengkan kuat-kuat.
“Ach! Apa yang terjadi dengan
diriKUUUU!!!!”
“Kau merasa jantungmu berdegub kencang
kan’?”
Aku hanya mengangguk, David tersenyum,
dan dia tertawa dalam sekejap. Duh, memangnya aku komedian apa, kok ketawanya
begitu.
“Itu namanya kau sedang jatuh cinta
Miss...”
“Ja... jatuh cinta? Omong kosong! Aku nggak
bakal jatuh cinta sama cowok!!”
“Jangan bohong, buktinya kau bersikap
seperti itu...”
“Aku... pada dasarnya nggak suka cowok,
jadi, aku nggak bakal jatuh cinta sama cowok...”
Aku melihat kearah David, ampunn...
mukanya kaya’ lagi syok dilebay-lebayin.
“JADI KAMU NGGAK PERNAH PUNYA PACAR?
KAMU SELAMA INI JOMBLO? SELAMA INI NGGAK PERNAH KENCAN?! Hmm... hipnotisku
ternyata berguna juga...”
“HIPNOTIS APAAN? Kamu kan’ cuma PENIPU!”
“Coba Miss bayangkan, anda tidak
menyukai pria tapi, anda jatuh cinta pada saya” (Kenapa gaya bicaranya jadi
formal?)
“Iya juga sih... hm... apa-apaan sih
kamu manggil aku MISS?! Namaku KWON ERI, jadi lain kali, panggil aku ERI!!!”
Aku berlari menghindarinya, kalau dia
bukan penyihir, lalu bagaimana caranya dia membuatku jatuh cinta? Sepertinya
otakku mulai percaya kalau dia penyihir. Ya, penyihir tampan yang memangsa hati
wanita.
Bersambung
ke Part berikutnya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar