Selasa, 28 Oktober 2014

Little Note : Will Lose

Aku ini bagaikan ayam yang seharusnya tak pernah kesepian. Semua ayam pasti memiliki banyak teman, kemana pun ia pergi, ia selalu memiliki teman. Tak sepertiku, kemanapun aku pergi, aku tak memiliki teman yang seharusnya kumiliki. Setiap kali ingin memiliki teman, aku tak pernah bisa menjadi diriku sendiri. Ketika aku kembali menjadi diri sendiri, entah mengapa semuanya hilang begitu saja. Bisa dikatakan, aku adalah orang yang tak bisa jaim (jaga image) terlalu lama. Setiap manusia selalu menginginkan kesempurnaan tapi... yang tak sempurnapun selalu ingin diingini atau diharapkan manusia. 
Aku yang tak sempurna ini harus memaksa diri untuk sempurna. Karena selalu dipaksa hidup menjadi sempurna, aku tak pernah bisa menjadi diriku sendiri dan tak pernah bisa menjadi sempurna sampai kapanpun.Aku tahu, jika aku terus begini, aku akan kehilangan. Ketika aku memiliki perasaan yakni cinta, aku tak mampu mengungkapkannya karena merasa terpaksa sempurna di depan matanya. Aku merasa bukan diriku ketika berada dihadapannya, bahkan untuk membuatnya bahagia, rasanya aku tak sanggup meski itu berhasil.
Rasanya, ketika aku melihat orang lain, aku selalu merasa mereka lebih hebat daripada aku. Meski aku memiliki bakat yang dibilang jenius pun, aku selalu merasa kalah karena selalu terpaksa sempurna. Dan ketika aku meninggalkan keterpaksaanku, aku akan kehilangan segalanya, segala yang kumiliki selain keluargaku, rumah tempatku berlindung.

Sabtu, 11 Oktober 2014

Cerita Misteri Pertama



Maaf ya kalau ceritaku ini ngalor-ngidul-ngetan-ngulon alias kesana-kemari, nggak jelas. Maklum baru pertama kali membuat cerita berbau misteri, selamat membaca ya....

Dibalik Sinar Rembulan

Aku tidak tahu aku berada dimana saat ini,  keadaan disekitarku begitu gelap dan menakutkan. Perlahan, aku menyadari kalau ini perpustakaan.  Kutelusuri rak-rak buku, aneh, semua buku disini tidak berjudul. Tiba-tiba, ada buku yang jatuh. Segera kuambil buku itu, kubolak-balik, kosong, tidak ada tulisannya sama sekali. Ketika sampai dihalaman terakhir, tertulis nama seseorang dengan huruf Jepang.
Pandangan mataku berubah, ke jalan raya di tepi pantai. Kulihat kelangit, ah, bulan purnama, pantas saja disekitarku agak terang. Jantungku dikagetkan oleh  mobil yang menerobos tembok pembatas dan tercebur ke laut. Diseberang sana, tampak seseorang berdiri menatap mobil itu, bibirnya tersenyum sinis. Matanya berbalik melihat kearahku, aku tidak tahu apa yang akan terjadi karena alarm membangunkanku. Astaga! Masih jam tiga pagi! Pasti ada merubah setelan waktunya, tapi, siapa? Mama? Tidak mungkin, Papa? Nggak juga, Pembantuku? Hm.. mungkin.
 *****
 Matahari muncul diufuk timur, aku bergegas pergi kesekolah.
“Soon Shin, papa antar ya?,” ayah berjalan menuju mobil.
“Tidak usah, pa. Soon Shin jalan kaki saja”
“Nanti kalau kamu capek gimana?”
“Nggak papa, daripada Soon Shin terlambat terjebak macet, lebih baik  Soon Shin jalan kaki saja”
“Hm... okelah, papa mengizinkan kamu jalan kaki”
Kucium tangan Papa dan Mama, lalu bergegas ke sekolah. Ditengah perjalanan, persis dijalan raya dalam mimpiku, orang-orang berkerumun disitu. Kulihat polisi mengambil sesuatu dari laut dengan derek. Ternyata dugaanku benar, yang diambil itu mobil. Keadaan mobil itu mengenaskan, kulihat pengemudinya. Apa, tidak mungkin! Tidak mungkin, orang itu!
Aku berlari sekuat tenaga meninggalkan tempat itu. Jantungku berdebar keras, benarkah mimpiku menjadi kenyataan? Apakah aku mendapatkan petunjuk tentang kematian seseorang? Aku berusaha untuk tidak memikirkannya lagi. Aku melihat jam tanganku, astaga, aku hampir terlambat!!
*****
 Semua murid berlarian menuju gerbang sekolah, tampak seorang guru memarahi mereka. Bahkan ada dihukum, beruntunglah Soon Shin sudah tiba duluan. Seorang guru lagi menghampiri rekannya.
“Tidakkah terlalu kejam menghukum mereka. Lebih baik mereka diberi surat keterangan, bukan?” kata guru itu.
Namun, rekannya itu tetap tidak mendengarkan. Merasa tidak dipedulikan, guru itu pergi.
*****
Aku bingung mencari kelasku, maklum aku baru pindah disini. Aku melihat lorong, kuputuskan untuk menelusuri lorong itu. Aku terkejut, hampir saja aku menabrak guru.
“Sen... sensei tidak apa-apa? Maaf, saya bantu ya...” kataku sambil memungut buku.
“Hm... terima kasih. Kamu murid baru? Namamu Lee Soon Shin, kan?”
“I...iya, saya bingung mencari kelas saya”
“Oh, kebetulan sekali, saya wali kelas anda. Mari kutunjukkan kelasmu...”
Aku mengikuti Sensei, sebelum masuk kelas, aku harus mengganti sepatuku. Kemudian, sensei memperkenalkan diriku dihadapan teman-temanku. Sensei menyuruhku untuk duduk, beruntunglah ada kursi kosong dipojok. Ketika aku berjalan, semuanya memandangiku dengan ramah. Saat istirahat, aku bingung harus apa. Tiba-tiba ada yang menepuk bahuku.
“Hai anak baru! Perkenalkan, namaku Nanako Yamato, kalau kau?”
“Aku Lee Soon Shin, salam kenal...”
“Aku dengar kau dari Korea, senang bisa berteman denganmu...”
“Senang berteman denganmu juga”
“Oh ya, Lee-chan, bagaimana perasaanmu di sekolah baru?”
“Hm... ya begitulah, aku sedikit gugup”
Tiba-tiba segerombolan siswa masuk ke kelas, mereka membicarakan pembicaraan yang serius.
“Eh, apa? Tamura-sensei meninggal?” kata seorang dari mereka
“Ya, meninggal tadi malam. Kau tahu  kecelakaan disekitar sini kan’? Itu Tamura-sensei!”
Aku terkejut, kecelakaan disekitar sini kan’ kecelakaan yang tadi. Aku menulis huruf Jepang yang kulihat semalam. Meskipun aku bisa berbahasa Jepang, untuk huruf yang satu ini aku kesulitan membacanya. Kutepuk pundak Nana-chan.
“Nana-chan, kau bisa membaca ini?”
“Hmm... ah, ini kan’ nama lengkap Tamura-sensei, darimana kau tahu?”
“Se...sebenarnya aku memimpikan kecelakaan itu, dalam mimpiku, Tamura-sensei dibunuh oleh seseorang”
“Dibunuh?! Kau yakin?”
“Aku yakin! Kalau ada seseorang yang terluka, orang tersebut tersenyum sinis, bukankah orang itu dibunuh?”
“Tapi, aku ragu. Nanti, kita selidiki bersama”
“Ok!”
Bel tanda istirahat usai berdering, aku mengikuti pelajaran hingga usai. Ternyata sekolah di Jepang sama saja dengan sekolah di Korea. Tiba-tiba Nana-chan menarik lenganku.
“Ayo kita pecahkan misteri ini!” katanya bersemangat
“Baiklah, pertama-tama kita kemana?”
“Kita ke tempat Tamura-sensei kecelakaan saja”
Kami bergegas ke tempat itu, dari tadi aku merasa ada yang memperhatikan kami.
 *****
 “Kasus kecelakaan ini sulit dijelaskan!” kata detektif sambil melihat TKP.
“Benar, tuan. Kondisi korban saat itu baik-baik saja, tidak dalam keadaan mabuk. Tiba-tiba dia membanting stir, menghantam tembok pembatas dan meninggal karena paru-parunya dipenuhi air” kata asistennya.
“Kalau membanting stir, berarti dia berusaha menghindari sesuatu”
“Tapi tuan, menurut saksi mata, tidak ada apapun dijalan”
“Apa? Ayolah, kenapa kasus ini begitu misterius?”
Soon Shin mendengar percakapan mereka, jantungnya berdebar, ia berpikir keras. Jika itu pembunuhan, bagaimana cara si pembunuh membunuh korbannya? Kalau pembunuhnya hantu, ah, tidak mungkin, pasti ada cara yang lain. Soon Shin berpikir keras, Nana-chan menepuk pundaknya.
“Apa kamu mendapat sesuatu?”
“Belum, kasus ini begitu sulit, aku tak dapat memikirkannya”
“Kalau begitu, kita pulang saja, besok kita pikirkan lagi...”
Soon Shin dan Nana-chan meninggalkan tempat itu. Tampaknya seseorang mengikuti mereka, Soon Shin menjadi gelisah. Ia memandangi langit, bulan purnama bersinar begitu terang, terang sekali.
 *****
 Aku menunggu didepan lift, ketika pintu lift terbuka, aku langsung masuk. Tiba-tiba lelaki muda menghentikan pintu lift. Ia tersenyum padaku, ia kelihatan lelah sekali. Pintu lift tertutup, aku dan lelaki itu diam saja. Aku memandangnya, tiba-tiba dia berbalik kearahku. Lagi-lagi, dia tersenyum padaku, ah, aku rasa bakalan terjadi hal buruk.
“Kau tinggal dilantai 14 kan’?” tanya lelaki itu tiba-tiba
“I... iya...”
“Berarti berjarak satu lantai denganku, aku tinggal dilantai 13”
Tiba-tiba, pintu lift terbuka, lelaki itu keluar, memandangku lagi.
“Kalau begitu sampai jumpa, kuharap kita bisa bertemu lagi dilain waktu”
“Iya tuan, kuharap juga begitu...”
Pintu lift akan tertutup, tiba-tiba lelaki itu berbalik sambil berteriak
“SAMPAI JUMPA DI NERAKA NANTI!”
Jantungku berdebar keras, apakah perkataan lelaki itu benar? Lampu lift mati, aku merasa lift ini jatuh, mengarah kebawah dan bukk! Kurasa lift ini sudah jatuh kebawah. Aku merasakan sakit yang amat sangat didadaku, kulihat tanganku, ada darah! Aku sadar bahwa aku tertusuk sesuatu, pandanganku mulai samar-samar. Aku melihat lelaki tadi, ia melihatku dengan senyum sinisnya. Aku sudah tidak kuat lagi, rasanya, aku benar-benar... mati
 ******
 Esoknya, dalam sekejap, apartemen itu dipenuhi orang termasuk wartawan, polisi, detektif, dan saya, si penulis. Saya melihat seorang gadis SMA berlari kearah kerumunan, ia jatuh berlutut, airmatanya mulai menetes.
“Naaaaaaaaaaaaannnaaaaaaaaaaaaa!!!!” teriaknya.
Benar, gadis itu Lee Soon Shin, ia ingin sekali memeluk sahabatnya itu, tapi, polisi menariknya menghindar dari mayat sahabatnya itu. Ibu Soon Shin menghampiri anaknya itu, memeluknya, ia mengerti benar perasaan anaknya saat ini.
“Sudahlah Soon Shin, jangan menangis lagi, biarkanlah Nanako pergi dengan tenang”
“Tapi, bu, Nanako, teman pertamaku dinegri ini...”
“Soon Shin, kalau kau begini terus, Nanako tidak bisa pergi dengan tenang”
Soon Shin menghapus airmatanya, ia berdiri dan beranjak pergi.
 *****
 Aku memandangi diaryku, ah, apa aku harus menuliskan kejadian ini dibuku harianku. Aku tidak sanggup, kuletakan diary itu disampingku. Tanpa kusadari, aku sudah terlelap dalam tidurku. ‘Soon Shin...’ suara lembut itu? Apa itu mimpi? Aku berusaha bangun, akhirnya berhasil juga. Tapi, suara lembut itu masih saja terdengar, kulihat jendela kamarku, cahaya bulan purnama masuk kekamarku. Samar-samar, kulihat seorang lelaki berdiri dibalik korden. Ba... bagaimana bisa dia masuk kesini? Matanya bersinar merah, menebus korden kamarku.
“Kemarilah, ikutlah bersamaku!” katanya lembut
Tiba-tiba tubuhku bergerak sendiri, ada apa ini? Aku berusaha melawan, berteriak sekuat tenaga.
“PERGI! PERGI DARI SINI, PERGIIII!!!”
Aku melihat korden, dia menghilang! Ah, alarmku bunyi lagi, ini mimpi? Tapi kenapa terasa begitu nyata? Aku mempersiapkan diri dan bergegas pergi kesekolah. Ketika berjalan masuk ke halaman sekolah, semua orang memandangiku dengan aneh. Aku melihat diriku dicermin, tidak ada yang aneh, semuanya sempurna. Aku berjalan kelorong yang dulu kulewati. Entah mengapa ingatan tentang Nana-chan lewat dikepalaku. Ketika aku belok, aku menabrak seseorang, apa ini Deja Vu? Kulihat orang yang kutabrak, tidak mungkin, Nana-chan?!
“Nana-chan, kamu masih hidup?!”
“Apa yang kamu pikirkan? Bukankah aku sudah mati?!”
Aku tersadar, aku ada dikamarku, kulihat kedepan, lelaki itu masih berdiri, matanya merah bersinar, begitu menyeramkan.
“Ikutlah denganku!”
“Kenapa aku harus mengikutimu?!”
Seberkas ingatan menghembus pikiranku. Aku melihat diriku saat itu, ah, itu aku yang berumur delapan tahun. Wajahku imut sekali ditambah hanbok yang cute. Aku melihat nenekku sedang melakukan sesuatu, aku ingat! Saat itu nenekku yang seorang shaman melaksanakan ritual pemujaan dewa. Tiba-tiba petir menyambar, hujan turun dengan lebat, si kecil aku mendengar suara rubah, aku ketakutan dan memeluk nenek. Nenekku mengerutkan alisnya.
“Tidak mungkin, cucuku, kau persembahan yang diinginkan Gumiho?!”
Aku kembali dikamar, tanpa sadar aku melihat pakaianku, sejak kapan pakaianku berubah menjadi Hanbok? Kamarku makin terang karena rembulan, kulihat lelaki itu lagi. Dia sudah menampakkan sembilan ekornya, matanya makin bersinar.
“Aku tidak mau ikut denganmu, kau sudah membunuh guruku dan sahabatku!”
Dia menarik tanganku. Aku berusaha melepasnya.
“Lepaskan aku, aku tidak mau!”
Tiba-tiba, nenekku datang, ia mengusir Gumiho itu dan memakaikanku kalung.
“Cucuku, itu adalah kalung untuk menghindari Gumiho, jangan sampai kau melepasnya” kata nenekku. Aku memeluk nenekku, Gumiho itu menyerigai.
“Soon Shin, aku pasti akan mendapatkanmu!”
Gumiho itu menghilang, ibuku masuk ke kamar, memelukku.
“Kau harus menjaga dia! Gumiho itu akan terus mengkuti anakmu kemana pun dia pergi” kata nenekku sambil melepaskan pelukanku.
“Baiklah, bu. Aku akan menjaganya”
 *****
 Tak terasa waktu pun terus berlalu, kini aku sudah dewasa. Sekarang aku menjadi detektif di negriku sendiri, Korea. Kali ini, aku menghadapi kasus sulit, bayangkan seorang wanita tewas didalam ruang tertutup. Padahal ketika kuselidiki, wanita itu tidak bunuh diri melainkan dibunuh. Aku mengemudikan mobilku sambil memikirkan kasus ini. Kulihat langit, bulan purnama. Handphoneku berdering, segera kujawab telepon itu.
“Halo, ini siapa?”
Soon Shin, kemarilah, ikutlah denganku....”
Apa? Gumiho itu masih mengikutiku sampai sekarang? Tiba-tiba ada sinar yang menyorotiku. Kulirik kebelakang, tidak! Gumiho itu!
“Apa yang kamu inginkan, PERGI DARI SINI!!” teriakku.
Kulirik lagi kebelakang, Gumiho itu hilang, syukurlah. Saat kulihat kedepan, Gumiho itu berdiri ditengah jalan, aku tidak menghindarinya. Aku pikir dia mati kalau aku menabraknya. Tapi tidak, sebuah energi gaib membuat mobilku terpental dan tercebur ke laut. Aku rasa aku sudah tamat, benar-benar sudah tamat!