Maaf ya kalau ceritaku
ini ngalor-ngidul-ngetan-ngulon alias kesana-kemari, nggak jelas. Maklum baru
pertama kali membuat cerita berbau misteri, selamat membaca ya....
Dibalik
Sinar Rembulan
Aku tidak tahu aku berada dimana saat
ini, keadaan disekitarku begitu gelap
dan menakutkan. Perlahan, aku menyadari kalau ini perpustakaan. Kutelusuri rak-rak buku, aneh, semua buku
disini tidak berjudul. Tiba-tiba, ada buku yang jatuh. Segera kuambil buku itu,
kubolak-balik, kosong, tidak ada tulisannya sama sekali. Ketika sampai dihalaman
terakhir, tertulis nama seseorang dengan huruf Jepang.
Pandangan mataku berubah, ke jalan raya
di tepi pantai. Kulihat kelangit, ah, bulan purnama, pantas saja disekitarku
agak terang. Jantungku dikagetkan oleh mobil yang menerobos tembok pembatas dan
tercebur ke laut. Diseberang sana, tampak seseorang berdiri menatap mobil itu,
bibirnya tersenyum sinis. Matanya berbalik melihat kearahku, aku tidak tahu apa
yang akan terjadi karena alarm membangunkanku. Astaga! Masih jam tiga pagi!
Pasti ada merubah setelan waktunya, tapi, siapa? Mama? Tidak mungkin, Papa?
Nggak juga, Pembantuku? Hm.. mungkin.
*****
Matahari
muncul diufuk timur, aku bergegas pergi kesekolah.
“Soon
Shin, papa antar ya?,” ayah berjalan menuju mobil.
“Tidak
usah, pa. Soon Shin jalan kaki saja”
“Nanti
kalau kamu capek gimana?”
“Nggak papa, daripada Soon Shin
terlambat terjebak macet, lebih baik Soon Shin jalan kaki saja”
“Hm...
okelah, papa mengizinkan kamu jalan kaki”
Kucium tangan Papa dan Mama, lalu
bergegas ke sekolah. Ditengah perjalanan, persis dijalan raya dalam mimpiku,
orang-orang berkerumun disitu. Kulihat polisi mengambil sesuatu dari laut
dengan derek. Ternyata dugaanku benar, yang diambil itu mobil. Keadaan mobil
itu mengenaskan, kulihat pengemudinya. Apa, tidak mungkin! Tidak mungkin, orang
itu!
Aku berlari sekuat tenaga meninggalkan
tempat itu. Jantungku berdebar keras, benarkah mimpiku menjadi kenyataan?
Apakah aku mendapatkan petunjuk tentang kematian seseorang? Aku berusaha untuk
tidak memikirkannya lagi. Aku melihat jam tanganku, astaga, aku hampir
terlambat!!
*****
Semua murid berlarian menuju gerbang
sekolah, tampak seorang guru memarahi mereka. Bahkan ada dihukum, beruntunglah Soon
Shin sudah tiba duluan. Seorang guru lagi menghampiri rekannya.
“Tidakkah terlalu kejam menghukum
mereka. Lebih baik mereka diberi surat keterangan, bukan?” kata guru itu.
Namun, rekannya itu tetap tidak
mendengarkan. Merasa tidak dipedulikan, guru itu pergi.
*****
Aku bingung mencari kelasku, maklum aku
baru pindah disini. Aku melihat lorong, kuputuskan untuk menelusuri lorong itu.
Aku terkejut, hampir saja aku menabrak guru.
“Sen... sensei tidak apa-apa? Maaf, saya
bantu ya...” kataku sambil memungut buku.
“Hm... terima kasih. Kamu murid baru?
Namamu Lee Soon Shin, kan?”
“I...iya, saya bingung mencari kelas
saya”
“Oh, kebetulan sekali, saya wali kelas
anda. Mari kutunjukkan kelasmu...”
Aku mengikuti Sensei, sebelum masuk
kelas, aku harus mengganti sepatuku. Kemudian, sensei memperkenalkan diriku
dihadapan teman-temanku. Sensei menyuruhku untuk duduk, beruntunglah ada kursi
kosong dipojok. Ketika aku berjalan, semuanya memandangiku dengan ramah. Saat
istirahat, aku bingung harus apa. Tiba-tiba ada yang menepuk bahuku.
“Hai anak baru! Perkenalkan, namaku
Nanako Yamato, kalau kau?”
“Aku
Lee Soon Shin, salam kenal...”
“Aku
dengar kau dari Korea, senang bisa berteman denganmu...”
“Senang
berteman denganmu juga”
“Oh
ya, Lee-chan, bagaimana perasaanmu di sekolah baru?”
“Hm...
ya begitulah, aku sedikit gugup”
Tiba-tiba segerombolan siswa masuk ke
kelas, mereka membicarakan pembicaraan yang serius.
“Eh,
apa? Tamura-sensei meninggal?” kata seorang dari mereka
“Ya, meninggal tadi malam. Kau tahu kecelakaan disekitar sini kan’? Itu
Tamura-sensei!”
Aku
terkejut, kecelakaan disekitar sini kan’ kecelakaan yang tadi. Aku menulis
huruf Jepang yang kulihat semalam. Meskipun aku bisa berbahasa Jepang, untuk
huruf yang satu ini aku kesulitan membacanya. Kutepuk pundak Nana-chan.
“Nana-chan,
kau bisa membaca ini?”
“Hmm...
ah, ini kan’ nama lengkap Tamura-sensei, darimana kau tahu?”
“Se...sebenarnya aku memimpikan
kecelakaan itu, dalam mimpiku, Tamura-sensei dibunuh oleh seseorang”
“Dibunuh?!
Kau yakin?”
“Aku yakin! Kalau ada seseorang yang terluka,
orang tersebut tersenyum sinis, bukankah orang itu dibunuh?”
“Tapi,
aku ragu. Nanti, kita selidiki bersama”
“Ok!”
Bel tanda istirahat usai berdering, aku
mengikuti pelajaran hingga usai. Ternyata sekolah di Jepang sama saja dengan
sekolah di Korea. Tiba-tiba Nana-chan menarik lenganku.
“Ayo kita pecahkan misteri ini!” katanya
bersemangat
“Baiklah, pertama-tama kita kemana?”
“Kita ke tempat Tamura-sensei kecelakaan
saja”
Kami bergegas ke tempat itu, dari tadi
aku merasa ada yang memperhatikan kami.
*****
“Kasus kecelakaan ini sulit dijelaskan!”
kata detektif sambil melihat TKP.
“Benar, tuan. Kondisi korban saat itu baik-baik
saja, tidak dalam keadaan mabuk. Tiba-tiba dia membanting stir, menghantam
tembok pembatas dan meninggal karena paru-parunya dipenuhi air” kata
asistennya.
“Kalau membanting stir, berarti dia
berusaha menghindari sesuatu”
“Tapi tuan, menurut saksi mata, tidak
ada apapun dijalan”
“Apa? Ayolah, kenapa kasus ini begitu
misterius?”
Soon Shin mendengar percakapan mereka,
jantungnya berdebar, ia berpikir keras. Jika itu pembunuhan, bagaimana cara si
pembunuh membunuh korbannya? Kalau pembunuhnya hantu, ah, tidak mungkin, pasti
ada cara yang lain. Soon Shin berpikir keras, Nana-chan menepuk pundaknya.
“Apa kamu mendapat sesuatu?”
“Belum, kasus ini begitu sulit, aku tak
dapat memikirkannya”
“Kalau begitu, kita pulang saja, besok
kita pikirkan lagi...”
Soon Shin dan Nana-chan meninggalkan
tempat itu. Tampaknya seseorang mengikuti mereka, Soon Shin menjadi gelisah. Ia
memandangi langit, bulan purnama bersinar begitu terang, terang sekali.
*****
Aku menunggu didepan lift, ketika pintu
lift terbuka, aku langsung masuk. Tiba-tiba lelaki muda menghentikan pintu
lift. Ia tersenyum padaku, ia kelihatan lelah sekali. Pintu lift tertutup, aku
dan lelaki itu diam saja. Aku memandangnya, tiba-tiba dia berbalik kearahku.
Lagi-lagi, dia tersenyum padaku, ah, aku rasa bakalan terjadi hal buruk.
“Kau tinggal dilantai 14 kan’?” tanya
lelaki itu tiba-tiba
“I... iya...”
“Berarti berjarak satu lantai denganku,
aku tinggal dilantai 13”
Tiba-tiba, pintu lift terbuka, lelaki
itu keluar, memandangku lagi.
“Kalau begitu sampai jumpa, kuharap kita
bisa bertemu lagi dilain waktu”
“Iya tuan, kuharap juga begitu...”
Pintu lift akan tertutup, tiba-tiba
lelaki itu berbalik sambil berteriak
“SAMPAI JUMPA DI NERAKA NANTI!”
Jantungku berdebar keras, apakah
perkataan lelaki itu benar? Lampu lift mati, aku merasa lift ini jatuh,
mengarah kebawah dan bukk! Kurasa lift ini sudah jatuh kebawah. Aku merasakan
sakit yang amat sangat didadaku, kulihat tanganku, ada darah! Aku sadar bahwa
aku tertusuk sesuatu, pandanganku mulai samar-samar. Aku melihat lelaki tadi,
ia melihatku dengan senyum sinisnya. Aku sudah tidak kuat lagi, rasanya, aku
benar-benar... mati
******
Esoknya, dalam sekejap, apartemen itu
dipenuhi orang termasuk wartawan, polisi, detektif, dan saya, si penulis. Saya
melihat seorang gadis SMA berlari kearah kerumunan, ia jatuh berlutut,
airmatanya mulai menetes.
“Naaaaaaaaaaaaannnaaaaaaaaaaaaa!!!!”
teriaknya.
Benar, gadis itu Lee Soon Shin, ia ingin
sekali memeluk sahabatnya itu, tapi, polisi menariknya menghindar dari mayat
sahabatnya itu. Ibu Soon Shin menghampiri anaknya itu, memeluknya, ia mengerti
benar perasaan anaknya saat ini.
“Sudahlah Soon Shin, jangan menangis
lagi, biarkanlah Nanako pergi dengan tenang”
“Tapi, bu, Nanako, teman pertamaku
dinegri ini...”
“Soon Shin, kalau kau begini terus,
Nanako tidak bisa pergi dengan tenang”
Soon Shin menghapus airmatanya, ia
berdiri dan beranjak pergi.
*****
Aku memandangi diaryku, ah, apa aku
harus menuliskan kejadian ini dibuku harianku. Aku tidak sanggup, kuletakan
diary itu disampingku. Tanpa kusadari, aku sudah terlelap dalam tidurku. ‘Soon Shin...’ suara lembut itu? Apa itu
mimpi? Aku berusaha bangun, akhirnya berhasil juga. Tapi, suara lembut itu
masih saja terdengar, kulihat jendela kamarku, cahaya bulan purnama masuk
kekamarku. Samar-samar, kulihat seorang lelaki berdiri dibalik korden. Ba...
bagaimana bisa dia masuk kesini? Matanya bersinar merah, menebus korden
kamarku.
“Kemarilah,
ikutlah bersamaku!” katanya lembut
Tiba-tiba tubuhku bergerak sendiri, ada
apa ini? Aku berusaha melawan, berteriak sekuat tenaga.
“PERGI! PERGI DARI SINI, PERGIIII!!!”
Aku melihat korden, dia menghilang! Ah,
alarmku bunyi lagi, ini mimpi? Tapi kenapa terasa begitu nyata? Aku
mempersiapkan diri dan bergegas pergi kesekolah. Ketika berjalan masuk ke
halaman sekolah, semua orang memandangiku dengan aneh. Aku melihat diriku
dicermin, tidak ada yang aneh, semuanya sempurna. Aku berjalan kelorong yang
dulu kulewati. Entah mengapa ingatan tentang Nana-chan lewat dikepalaku. Ketika
aku belok, aku menabrak seseorang, apa ini Deja Vu? Kulihat orang yang
kutabrak, tidak mungkin, Nana-chan?!
“Nana-chan, kamu masih hidup?!”
“Apa
yang kamu pikirkan? Bukankah aku sudah mati?!”
Aku tersadar, aku ada dikamarku, kulihat
kedepan, lelaki itu masih berdiri, matanya merah bersinar, begitu menyeramkan.
“Ikutlah
denganku!”
“Kenapa aku harus mengikutimu?!”
Seberkas ingatan menghembus pikiranku.
Aku melihat diriku saat itu, ah, itu aku yang berumur delapan tahun. Wajahku
imut sekali ditambah hanbok yang cute. Aku melihat nenekku sedang melakukan
sesuatu, aku ingat! Saat itu nenekku yang seorang shaman melaksanakan ritual
pemujaan dewa. Tiba-tiba petir menyambar, hujan turun dengan lebat, si kecil
aku mendengar suara rubah, aku ketakutan dan memeluk nenek. Nenekku mengerutkan
alisnya.
“Tidak mungkin, cucuku, kau persembahan yang
diinginkan Gumiho?!”
Aku kembali dikamar, tanpa sadar aku
melihat pakaianku, sejak kapan pakaianku berubah menjadi Hanbok? Kamarku makin
terang karena rembulan, kulihat lelaki itu lagi. Dia sudah menampakkan sembilan
ekornya, matanya makin bersinar.
“Aku tidak mau ikut denganmu, kau sudah
membunuh guruku dan sahabatku!”
Dia menarik tanganku. Aku berusaha
melepasnya.
“Lepaskan aku, aku tidak mau!”
Tiba-tiba, nenekku datang, ia mengusir
Gumiho itu dan memakaikanku kalung.
“Cucuku, itu adalah kalung untuk
menghindari Gumiho, jangan sampai kau melepasnya” kata nenekku. Aku memeluk
nenekku, Gumiho itu menyerigai.
“Soon
Shin, aku pasti akan mendapatkanmu!”
Gumiho itu menghilang, ibuku masuk ke
kamar, memelukku.
“Kau harus menjaga dia! Gumiho itu akan
terus mengkuti anakmu kemana pun dia pergi” kata nenekku sambil melepaskan
pelukanku.
“Baiklah, bu. Aku akan menjaganya”
*****
Tak terasa waktu pun terus berlalu, kini
aku sudah dewasa. Sekarang aku menjadi detektif di negriku sendiri, Korea. Kali
ini, aku menghadapi kasus sulit, bayangkan seorang wanita tewas didalam ruang
tertutup. Padahal ketika kuselidiki, wanita itu tidak bunuh diri melainkan
dibunuh. Aku mengemudikan mobilku sambil memikirkan kasus ini. Kulihat langit,
bulan purnama. Handphoneku berdering, segera kujawab telepon itu.
“Halo, ini siapa?”
“Soon
Shin, kemarilah, ikutlah denganku....”
Apa? Gumiho itu masih mengikutiku sampai
sekarang? Tiba-tiba ada sinar yang menyorotiku. Kulirik kebelakang, tidak!
Gumiho itu!
“Apa yang kamu inginkan, PERGI DARI
SINI!!” teriakku.
Kulirik lagi kebelakang, Gumiho itu
hilang, syukurlah. Saat kulihat kedepan, Gumiho itu berdiri ditengah jalan, aku
tidak menghindarinya. Aku pikir dia mati kalau aku menabraknya. Tapi tidak,
sebuah energi gaib membuat mobilku terpental dan tercebur ke laut. Aku rasa aku
sudah tamat, benar-benar sudah tamat!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar