Sabtu, 06 Desember 2014

Little Note : Suddenly

Brr... hujan hujan gini enaknya ngegalau, ngopi dan ngeteh ria hehehe... Kalau aku sih tidur dibalik selimut sambil ngetik dibalik bantal (emang bisa? bisa dong \:v/ ). By the way, hujan hujan gini emang bikin bete, masa cucian udah dua hari ngga kering-kering? Terpaksa dikeringin pake kompor (itu mbakar mah). . .

Suddenly

Entah mengapa awan begitu kelabu, mungkin hujan akan turun. Aku teringat mitos bahwa keadaan langit sama seperti yang dirasakan orang yang kita sukai saat ini. Namun, dalam lubuk hati ini, aku ragu terhadap mitos itu. Tidak mungkin dia saat ini seperti awan dilangit,tapi aku mencemaskannya. Perasaan rindu dan cinta terpendam ini akan kuakhiri begitu bertemu dengannya. Aku merasa perasaannya akan menjadi kelabu. Titik-titik air mulai menetes, semakin lama, semakin deras. Segera kubuka payungku dan menunggu seperti orang bodoh.
Lampu lalulintas menatapku, ingin mengatakan sesuatu. Ia menunjukkan warna merah, mungkin ia ingin aku berhenti melakukan ini, tapi aku tidak bisa. Sejak berpisah dengannya dihari kelulusan, perasaanku bimbang. Aku menyukainya, sangat menyukainya. Dia, dia tidak menunjukkan respon apapun.Ya, karena bukan aku dihatinya, ada wanita yang lebih baik dariku dihatinya. Namun, ia hanya bisa menatap jauh wanita itu, memendam perasaan, sama sepertiku.
Saat memandangi zebracross, aku teringat kejadian lima tahun lalu.Serasa seperti mimpi, kau tiba-tiba menggenggam tanganku dan menyebrangi jalan bersama. Tertawa selayaknya anak kecil dan berakhir di stasiun kereta. Kita pernah selalu bersama, mengisi kekosongan meski hanya sebagai teman. Seandainya kau memilih orang lain, aku kan tersenyum sebagai temanmu. Kita pernah hangout meski tujuannya untuk membeli hadiah ultah wanita itu, kau dan aku bertengkar hanya karena hal kecil. Pertengkaran itu segera mereda setelah kau memilih hadiah yang juga kusuka. Dreamcatcher yang berkilau bagai dirimu dimataku.
Musim mulai berganti, dibulan September itulah aku benar-benar patah hati. Aku mengayuh sepedaku sekencang-kencangnya, berharap air mataku terhapus oleh angin. Tanpa kusadari, kau berteriak ‘Apa salahku?!’,ku tak mampu menjawabnya, perasaan ini tak bisa kuungkapkan saat itu. Menyapamu saja, aku tak bisa, aku berusaha bersikap biasa. Melihat kau dengan wanita itu serasa duri dimataku. Saat kelulusan hampir tiba, diam-diam aku memasukkan surat kedalam tasmu. Aku berharap kau membacanya dan menemuiku sekarang.

Keadaan jalan saat ini begitu sepi, aku putus asa. Kuputuskan untuk menyebrang jalan dan meninggalkanmu,namun kakiku terasa berat untuk melangkah, begitu ambigu. Lampu lalulintas menyala hijau, kupaksa diriku untuk menyebrang ditengah hujan deras. Air mataku mulai menetes, hatiku semakin dingin, akankah kehangatan saat itu kembali, akankah? Tiba-tiba, seseorang menggengam tanganku, seperti mimpi waktu itu, kau tersenyum padaku. Kita menyebrang hingga lampu lalulintas berganti warna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar