Brr... hujan hujan gini enaknya ngegalau, ngopi dan ngeteh ria hehehe... Kalau aku sih tidur dibalik selimut sambil ngetik dibalik bantal (emang bisa? bisa dong \:v/ ). By the way, hujan hujan gini emang bikin bete, masa cucian udah dua hari ngga kering-kering? Terpaksa dikeringin pake kompor (itu mbakar mah). . .
Suddenly
Entah
mengapa awan begitu kelabu, mungkin hujan akan turun. Aku teringat mitos bahwa
keadaan langit sama seperti yang dirasakan orang yang kita sukai saat ini.
Namun, dalam lubuk hati ini, aku ragu terhadap mitos itu. Tidak mungkin dia
saat ini seperti awan dilangit,tapi aku mencemaskannya. Perasaan rindu dan
cinta terpendam ini akan kuakhiri begitu bertemu dengannya. Aku merasa
perasaannya akan menjadi kelabu. Titik-titik air mulai menetes, semakin lama,
semakin deras. Segera kubuka payungku dan menunggu seperti orang bodoh.
Lampu
lalulintas menatapku, ingin mengatakan sesuatu. Ia menunjukkan warna merah,
mungkin ia ingin aku berhenti melakukan ini, tapi aku tidak bisa. Sejak
berpisah dengannya dihari kelulusan, perasaanku bimbang. Aku menyukainya,
sangat menyukainya. Dia, dia tidak menunjukkan respon apapun.Ya, karena bukan
aku dihatinya, ada wanita yang lebih baik dariku dihatinya. Namun, ia hanya
bisa menatap jauh wanita itu, memendam perasaan, sama sepertiku.
Saat
memandangi zebracross, aku teringat kejadian lima tahun lalu.Serasa seperti
mimpi, kau tiba-tiba menggenggam tanganku dan menyebrangi jalan bersama. Tertawa
selayaknya anak kecil dan berakhir di stasiun kereta. Kita pernah selalu
bersama, mengisi kekosongan meski hanya sebagai teman. Seandainya kau memilih
orang lain, aku kan tersenyum sebagai temanmu. Kita pernah hangout meski tujuannya
untuk membeli hadiah ultah wanita itu, kau dan aku bertengkar hanya karena hal
kecil. Pertengkaran itu segera mereda setelah kau memilih hadiah yang juga
kusuka. Dreamcatcher yang berkilau bagai dirimu dimataku.
Musim
mulai berganti, dibulan September itulah aku benar-benar patah hati. Aku
mengayuh sepedaku sekencang-kencangnya, berharap air mataku terhapus oleh
angin. Tanpa kusadari, kau berteriak ‘Apa salahku?!’,ku tak mampu menjawabnya,
perasaan ini tak bisa kuungkapkan saat itu. Menyapamu saja, aku tak bisa, aku
berusaha bersikap biasa. Melihat kau dengan wanita itu serasa duri dimataku.
Saat kelulusan hampir tiba, diam-diam aku memasukkan surat kedalam tasmu. Aku
berharap kau membacanya dan menemuiku sekarang.
Keadaan
jalan saat ini begitu sepi, aku putus asa. Kuputuskan untuk menyebrang jalan
dan meninggalkanmu,namun kakiku terasa berat untuk melangkah, begitu ambigu.
Lampu lalulintas menyala hijau, kupaksa diriku untuk menyebrang ditengah hujan
deras. Air mataku mulai menetes, hatiku semakin dingin, akankah kehangatan saat
itu kembali, akankah? Tiba-tiba, seseorang menggengam tanganku, seperti mimpi
waktu itu, kau tersenyum padaku. Kita menyebrang hingga lampu lalulintas
berganti warna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar